Cari Disini

Loading...

Friday, September 23, 2011

Membuat Localhost Menggunakan XAMPP

Membuat Localhost Menggunakan XAMPP

Tuesday, August 23, 2011

Dzikrullah

Dzikrullah 
Membeningkan Hati, Menghampiri Ilahi

Karena itulah ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

Kalbu (Qalb) setiap manusia pada dasarnya jernih, bening, dan bercahaya. Di dalamnya ada seberkas cahaya (nur) yang bersumber dari cahaya Allah. Oleh sebab itu, setiap manusia memiliki nurani, sesuatu yang bersifat cahaya, jernih dan bening. Al-Ghazali melukiskan bahwa nurani seseorang itu seperti sebuah kaca yang bening; namun kebeningan kaca itu tercemari oleh noda-noda hitam yang digoreskannya setiap hari. Sebab setiap kita berbuat maksiat, berarti kita menorehkan noda hitam pada kaca yang bening itu. Jika tidak pernah dibersihkan, maka noda hitam itu lama-kelamaan menjadi keras membeku seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Maka, cahaya Allah tidak dapat ditangkap oleh nurani yang terhalang oleh noda-noda yang membeku.
Tasawuf mengupas tata cara menyucikan hati, mendekatkan diri kepada Allah dengan sedekat-dekatnya, dan merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari guna mewujudkan integritas moral yang tinggi pada pribadi seorang muslim. Kini, tasawuf menjadi fenomena masyarakat modern; bahkan menjadi bagian dari kebutuhan hidup. Masyarakat modern mencari tasawuf untuk melengkapi belahan kehidupannya yang hilang, yakni nilai-nilai spiritualitas. Sayyed Hossein Nasr memandang manusia modern mengalami dekadensi humanistik karena mereka telah kehilangan pengetahuan langsung mengenai dirinya. Pengetahuan ini bersifat dangkal, karena diperoleh dari pinggir lingkaran eksistensi manusia; yakni kesadaran tentang ketuhanan dan merasakan kehadiran-Nya dalam kehidupan. Manusia modern bagaikan berkas-berkas cahaya yang tenggelam dan gelap, tidak sanggup menghubungkan dirinya dengan sumber cahaya, Allah SWT.
Dzikir adalah upaya menghubungkan diri secara langsung dengan Allah, baik dengan lisan maupun dengan kalbu atau dengan memadukan keduanya secara simponi. Dzikir merupakan salah satu Tarekat (Thariqah), yaitu jalan, metode, atau cara yang dilakukan para sufi guna menyucikan jiwa, mendekatkan diri kepada Allah, dan merasakan kehadiran-Nya. Menurut ajaran Al-Qur'an, hakikat manusia adalah makhluk yang merindukan kehadiran Allah SWT. sebagai sumber kebaikan dan kebenaran. Inilah konsep fitrah dalam Islam. Manusia memiliki dimensi rohaniah yang datang dari Allah SWT. sehingga secara otomatis ia akan selalu rindu kembali kepada-Nya. Alqur'an menegaskan. "Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan ke dalamnya roh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud." (Q.S.Al-Hijr [15]: 29)
Sesuai dengan konsep kaum sufi, manusia dikenal memiliki dua dimensi. Pertama tersebut unsur labut, yakni potensi Ilahiah, yang selalu mendorong dirinya untuk merindukan kembali dan mencintai kebenaran. Yang kedua adalah unsur nasut, sebagai makhluk bumi, yang memiliki kelemahan-kelemahan, dan memiliki dorongan-dorongan nafsu sehingga, pada saat tertentu, ia mudah jatuh terperosok ke dalam kemerosotan moral dan spiritual (spiritual bankrupty). Buah zikir adalah tertanamnya nilai Ketuhanan secara kukuh dalam kalbu yang memancarkan kesadaran tentang nilai kemanusiaan. Zikir berarti mencintai Tuhan; sedangkan mencintai Tuhan secara benar ditandai dengan mengimbasnya cinta itu pada MakhlukNya. Sebaliknya, orang yang mencurahkan cinta kepada makhluk Tuhan tidak akan mengimbas kepada cinta Tuhan. Sebab, mencintai yang sejajar atau lebih rendah dari manusia terlampau berat untuk mengimbaskan cinta kepada yang lebih tinggi, Allah SWT. Manusia modern banyak yang tertipu dengan mencurahkan energi cintanya kepada benda dan sesama makhluk sehingga tidak mengimbaskan cinta kepada Tuhan.
Al-Qur'an menggambarkan bahwa kalimah thayyibah atau ungkapan zikir itu harus tertanam secara kukuh dalam kalbu seperti sebatang pohon yang akarnya terhujam ke dalam perut bumi. Cabang, ranting, dan dedaunannya menjulang ke langit nan tinggi, sedangkan buahnya dapat dipetik setiap saat (Q.S. Ibrahim [14]:24). Ayat ini menggambarkan bahwa Dzikir kepada Allah harus berintegrasi ke dalam kesadaran kita secara mendalam dan menjiwai seluruh perilaku kita, serta bermuara pada moralitas yang tinggi (Al-Akhlak al-karimah). Sedangkan orang yang tidak merasakan kehadiran Tuhan dan hidupnya tidak berorientasi kepada kesadaran tentang nilai-nilai ketuhanan (Rabbaniyyah) dilukiskan oleh Al-Qur'an sebagi pohon yang terbalik yang tercabut dari akarnya sehingga tidak memiliki pegangan yang kukuh dalam kehidupannya (Q.S. Ibrahim [14]: 27).

Profil manusia yang tercabut akarnya adalah manusia yang mengalami dekadensi, karena mereka telah kehilangan pengetahuan dan kesadaran langsung mengenai diri dan keakuannya. Bentangan hidupnya menjadi pendek, hanya berorientasi kepada persoalan kini dan si nafsaniyah dan rubaniah-nya dibiarkan dalam kehampaan dan kenestapaan. Kesadaran terdalamnya, Pertama, dan di bawah perut dengan menghalalkan segala cara (nafs al-ammarah). Kedua, dalam keraguan, konflik, dan ketegangan antara orientasi dan dorongan kepada materi dan kesadaran ketuhanan (nafs al-lawwamah), sehingga hidupnya tidak merasakan kedamaian (nafs muthma'innah).
Allah SWT. Berfirman, "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram. "(Q.S. Al-Ra'ad [13]: 28). Dalam ayat ini disebutkan bahwa cara memperoleh ketentraman hati adalah dengan berdzikir kepada Allah. Tetapi, tidak semua zikir menentramkan hati. Karena itu, syarat dzikir yang dapat menentramkan hati adalah dzikir orang yang beriman. Orang yang tidak beriman tidak bisa tentram dengan dzikir. Sebaliknya, orang yang beriman tidak akan tentram hatinya kecuali dengan dzikir kepada Allah.
Karena itu, kalau Anda beriman, jangan mencari , ketentraman pada kekayaan, kemasyuran atau hal-hal duniawi lainnya. Ketentraman hanya diperoleh dengan dzikir kepada Allah. Ketentraman ada kaitannya dengan keimanan, seperti dijelaskan dalam Alqur'an. "Dialah yang telah menurunkan ketentraman ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)..." (Q.S. Al-Fath[48]: 4). Allah menurunkan kententraman kepada hati orang yang beriman!.
Semoga Allah Mengajarkan kepada Kita Dzikir yang benar. Ammiin.

Tuesday, August 2, 2011

Thariqat

Thursday, July 7, 2011

Antisipasi Ajaran Sesat dan Menyesatkan

Sebuah Kisah manusia akhir zaman yang bertopeng agama untuk menuruti hawa nafsunya

Film: Mengaku Rasul

Sutradara: Helfi Kardit

Skenario: Taufik Daraming Tahir dan Helfi Kardit

Pemain: Jian Batari, M Ihsan Tarore, Alblen Fillindo Fabe, Ray Sahetapy, Vonny Cornellya, Hengky Tarnado, Baby Zelvia, Leroy Osmani

Genre: Drama/Religi

Produksi: Starvision

"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah yang memperoleh kemenangan" demikian surat At-Taubah ayat 20 dalam Al-Quran.

Akan tetapi, dalam perjalanan waktu, isi dari surat tersebut banyak yang disalah- artikan. Dengan dalih surat tersebut, banyak orang yang menggunakan kedok ke- Islam-annya untuk menggapai segala hasrat yang dia inginkan di dunia ini.
Al-Quran juga sudah mengantisipasi hal-hal yang sedemikian dengan menyebutkan, di saat dunia sudah mendekati hari akhir (kiamat) akan banyak orang yang mengaku sebagai Rasul.
Di Indonesia, sudah terjadi hal tersebut (orang yang mengaku sebagai Rasul). Orang-orang yang berdalih seperti ini adalah orang-orang beraliran sesat. Orang-orang seperti ini dikategorikan sebagai orang kafir yang ingin mencabut keimanan seseorang yang jiwanya masih labil seperti kaum muda atau orang-orang yang pendidikannya rendah sehingga mudah dikelabui.
Sebagai bekal menghadapi ajaran sesat seperti itu agar tidak terjadi lagi, jalan satu-satunya yang harus dimiliki setiap manusia adalah mempertebal keimanan dengan selalu mendekatkan diri kepada Tuhan.
Dari sisi lain, Starvision, mengajak seluruh umat beragama, khususnya yang menganut agama Islam, untuk mengantisipasi terhadap fenomena aliran sesat dengan meluncurkan film terbarunya dengan genre drama/religi berjudul Mengaku Rasul.
Sebagaimana yang dijelaskan produser film tersebut Chand Parwez Servia, film ini sekaligus memberikan pencerahan terhadap keimanan seluruh masyarakat, khususnya generasi muda. Sebab, belakangan ini, kata dia, fenomena mengenai aliran sesat marak terjadi bukan saja di Tanah Air, melainkan juga di luar negeri.
"Semoga dengan adanya film Mengaku Rasul ini dapat memberikan pencerahan rohani terhadap masyarakat akan bahayanya aliran sesat," ujar dia.
Meskipun tidak melibatkan secara langsung sebagai pemainnya, film ini juga menampilkan kotbah-kotbah dari beberapa ustadz terkemuka, seperti Ustadz Jefri Al Bukhori dan Ustadzah Hj.Yumma Abu Bakar.
Sementara itu, aktor kawakan Ray Sahetapy mengaku puas dan bangga menjadi pemeran utama sebagai Guru Samir. "Saya berharap, penonton puas melihat film yang bernuansa religi islami ini," ujar dia.
Film ini melibatkan banyak pemain dan ratusan figuran. Bahkan untuk menambah kereligian film ini, ilustrasi musiknya dikerjakan oleh Tyo Subiakto dan original soundtrack oleh Opick.


Kemunafikan
"Akulah sang imam yang dijanjikan sebelum hari kiamat datang membakar bumi. Akulah pembawa peringatan...Akulah Rasul..." demikian Guru Samir menghipnotis masyarakat Desa Cimaru dengan khotbah-khotbah yang membakar keimanan agar orang mengakui keberadaan dirinya tersebut.
Ironisnya, ternyata banyak orang yang termakan oleh khotbah-khotbahnya tersebut. Bahkan, sejumlah muridnya yang belajar di Padepokan Mustikakaur di mana Guru Samir adalah pemimpinnya, sudah mengkultuskan Guru Samir sebagai Rasul terakhir yang diturunkan Allah. Orang-orang banyak yang percaya bahwa mencium tangan Guru Samir sama saja mencium Hajar Aswat, batu hitam yang menempel di dinding Ka'bah.
Bahkan, gadis kota, Rianti (Jian Batari) pun juga mempercayainya. Itu terjadi akibat keimanan Rianti goyah setelah melihat kekasihnya Ajie (Alblen Fillindo Fabe) dipeluk oleh perempuan lain. Ajie sendiri adalah seorang musisi yang urakan dengan tubuh dipenuhi tato. Gaya hidup Ajie itulah yang membuat hubungannya dengan Rianti tidak direstui oleh orangtua Rianti.
Akan tetapi, Ajie membuktikan sekaligus membuka mata kedua orangtua Rianti bahwa melihat orang janganlah dari sisi luarnya saja tetapi hatinya. Meskipun urakan, Ajie adalah orang yang mengharamkan aliran sesat sebagaimana yang dilakukan Guru Samir.
Saat diutus kedua orangtua Rianti untuk menjemput Rianti dari padepokan, Ajie melihat beberapa kejanggalan yang dilakukan Guru Samir. Bahkan, Ajie melihat dengan mata kepalanya sendiri Guru Samir yang dipandang sebagai orang suci tersebut, mencabuli seorang gadis murid padepokan di suatu rumah yang disebut sebagai tempat untuk tafakur atau minta petunjuk Allah untuk keselamatan umatnya. Rianti tetap tidak percaya meskipun Reihan (Ihsan Tarore) juga meminta agar Rianti menimba ilmu agama Islam di tempat lain saja. Sementara Reihan adalah anak tiri dari Guru Samir.
Kemunafikan Guru Samir dengan perisai Islam, semakin menjadi-jadi. Dia juga tidak mau lagi mendengar saran-saran dari pendampingnya Ki Baihaqi (Reza Pahlevi). Banyak gadis yang menjadi korban pencabulan Guru Samir.
Suatu ketika, Marni (Fitri Ayu), salah seorang murid padepokan, hamil dan kedua orang tuanya meminta pertanggungjawaban Guru Samir. Dengan akal bulusnya, Guru Samir mengelak dengan menyatakan sebagai orang suci tidak mungkin dia melakukan perbuatan nista dan kotor seperti itu.
Untuk membuktian kesucian dan meyakinan banyak orang bahwa dia tidak melakukan itu, Guru Samir pun menantang orang-orang desa untuk memotong tangannya. Pedang yang diayunkan ayah Marni memutuskan tangan kanan Guru Samir. Tetapi, setelah tubuhnya digotong masuk ke dalam rumah, tiba-tiba Guru Samir keluar dengan tangan kanan yang sudah menyatu lagi. Tidak ada bekas luka sama sekali.
Bukan itu saja, Guru Samir juga menambah keyakinan masyarakat desa bahwa dia adalah Rasul dengan segala kemukjizatan yang diberikan Allah yaitu ketika jasadnya yang hangus terbakar berkhotbah ternyata hidup kembali.
Yang terjadi selanjutnya adalah semakin banyak orang yang ingin menjadi penganut ajaran sesat Guru Samir. Bahkan, Rianti pun juga ingin dipersunting oleh Guru Samir.

lihat filmnya disini


Sunday, June 26, 2011

Syekh Muhammad Sa’id Bonjol

Syekh Muhammad Sa’id Bonjol
Di salah satu Pusat perjuangan Paderi (1803-1838), Bonjol, pernah pula menjadi pusat kajian Islam Tradisional Minangkabau yang masyhur namanya sampai akhir abad ke-20. Nama besar perguruan Islam Tradisional itu tak lain karena dedikasi dan ketenaran seorang ulama besar yang kharismatik di daerah ini. Ulama itu ialah Syekh Muhammad Sa’id Bonjol, terkenal pulalah beliau ini dengan panggilan “Imam Bonjol ke-II”.
Masih tertulis dengan rapi nama Syekh Muhammad Sa’id Bonjol ini dalam buku-buku sejarah tua tentang Islam di Minangkabau, karena beliaulah penganjurnya yang gigih dan konsisten dengan akidah dan amalan yang dianut. Nama beliau paling banyak disebut apabila dihubungkan dengan jami’ah (organisasi) ulama-ulama Tua Minangkabau, PERTI, sebagai salah seorang sesepuh yang dihormati, teman seperjuangan Inyiak Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung. Organisasi Kaum Tua ini terkenallah sebagai wadah persatuan Ulama-ulama besar yang setia terhadap Mazhab Syafi’i dalam Fiqih, Ahlussunnah wal Jama’ah dalam berakidah dan memakai salah satu Tarekat Mu’tabarah sebagai bentuk pengamalan terhadap Tasawwuf sunni. Maka Syekh Sa’id merupakan salah satu tokoh yang tidak bisa dikesampingkan dalam perkumpulan ini.
Syekh Muhammad Sa’id dilahirkan pada tahun 1881. tidak tercatat lagi masa kecil beliau. Namun dapat diduga bahwa beliau di masa-masa umur puluhan tahun mengaji ala surau Minangkabau di daerah kelahirannya, Bonjol. Dasar-dasar keilmuan surau inilah yang memotivasinya untuk belajar ke tanah suci Mekkah dikemudian harinya, sebagai halnya ulama-ulama besar yang sebaya dengan beliau, sampai masyhurnya beliau sebagai Ulama besar.
Selain ilmu-ilmu Syariat yang dipelajari beliau secara bertalaqqi sejak dari Surau sampai ke Mekah al-Mukarramah, beliaupun istimewa dalam ilmu Tarekat dan Hakikat, sehingga terkenallah Syekh Sa’id sebagai salah seorang mursyid dan syekh dari Tarekat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah. Dari karena keistimewaan beliau dalam bidang Tasawwuf ini, Syekh Sa’id menjadi tokoh besar dalam mengurus bidang Tarekat Sufiyah dalam organisasi PERTI, setelah Syekh Abdul Wahid Beliau Tabek Gadang, Syekh Arifin Batu Hampar dan Syekh Muda Abdul Qadim Belubus Payakumbuh wafat. Tercatat bahwa beliau menjadi salah satu Ulama yang mengikuti Konferensi Tarekat Naqsyabandiyah di Bukittinggi pada tahun 1954, dalam membahas karangan-karangan Haji Djalaluddin (sebagai tersebut dalam Tablighul Amanah).
Syekh Sa’id mengambil Tarekat Naqsyabandiyah dari yang Mulia Syekh Ibrahim Kumpulan (1764-1914), yang masyhur namanya dengan “Angguik Balinduang Kumpulan”. Keberhasilan beliau dalam Tarekat Naqsyabandiyah menyebabkan beliau diangkat sebagai khalifah Syekh Ibrahim Kumpulan. Dikarenakan begitu taatnya beliau kepada Allah sehingga beliau mendapat Karunia Allah di dalam mengerjakan khalwat. Diceritakan dalam mengerjakan Suluk di Bulan Ramadhan beliau beroleh Karomah. Seketika mengambil wadhu’ di Malam Hari, Sorban beliau dilarikan Pohon kelapa yang rebah, sebab sebelumnya beliau meletakkan kain sorban beliau di pohon kelapa rebah itu sebelum berwudhu’.
Kedalaman ilmu beliau dalam bidang Syari’at, ditambah dengan paham yang matang dalam Tarekat, membuat Syekh Sa’id terkenal sebagai Ulama yang disegani oleh kawan maupun lawan. Tidak berapa lama setelah menamatkan kaji, Syekh Sa’id tidak perlu menunggu lama untuk membangun sebuah tempat pendidikan Tradisional sebagai tempat untuk mengamalkan ilmu yang telah berpuluh tahun dituntutnya. Baru saja beliau kembali ke kampung halamannya, para pelajar telah berbondong-bondong menuju Bonjol untuk bertalaqqi dan berkhitmat kepada Syekh Sa’id Bonjol. Masih teringat dan terkenang oleh para murid beliau yang sekarang berada dalam usia tua, ratusan orang siak mengaji siang dan malam, melafazhkan kitab kuning, berbai’at dalam Tarekat Naqsyabandiyah, di tempat Syekh Said yang sekarang telah disulap menjadi Mesjid Syekh Sa’id Bonjol.
Begitu halnya yang berlaku selama puluhan tahun, mengaji dan bersuluk menjadi aktivitas rutin di Surau Syekh Sa’id. Kemasyhuran Beliau, menjadi bau harum semerbak yang mengundang para penuntut ilmu dari daerah-daerah yang jauh, bukan hanya di kawasan Bonjol. Tercatat murid-murid beliau berasal dari Payakumbuh, Agam, Lubuk Sikaping bahkan dari Sumatera Utara. Keramaian pelajar itu bertahan sampai masa berpulang kerahmatullah Syekh Sa’id di tahun 1979 dalam usia 98 tahun. beliau kemudian dimakamkan di Mihrab Mesjid beliau, seperti ulama-ulama besar lain, makam beliau dihiasi dengan Kelambu putih, sebagai hormat dan setia kepada Imam Bonjol ke-II, Syekh Haji Muhammad Sa’id.
Seperti yang terjadi dengan ulama-ulama besar lainnya, pepatah orang-orang tua berlaku pula pada pribadi Syekh Sa’id. Ibarat kelapa condong, batangnya di tanah kita, namun buahnya jauh ke tanah orang lain. Murid-murid Syekh Sa’id yang seharusnya menjadi pengganti beliau bukanlah orang-orang Bonjol maupun keturunannya, tapi banyak di luar Bonjol. Maka tinggallah Makam dan Mesjid Syekh Sa’id, bukan lagi diurus dan dilanjutkan oleh para murid. Masih kita syukuri tradisi dan ajaran yang beliau anut tetap dipegang erat-erat oleh masyarakat Bonjol umumnya.

2. Mesjid Syekh Muhammad Sa’id Bonjol : Kedudukan dan Pengaruhnya
Suasana yang masih asri, begitulah jika kita memasuki kawasan mesjid Syekh Muhammad Sa’id Bonjol. Gaya arsitek lama, tata ruang yang sangat klasik dan amalan-amalan masyarakat di Mesjid ini yang masih seperti dulu menambah kekhasan Mesjid yang di desain di awal abad 20 itu.
Mesjid Syekh Sa’id di pagari oleh tembok setinggi 2 meter di keempat penjurunya, sehingga dari pekarangan mesjid kita tak bisa melihat jalanan aspal di depan komplek mesjid ini. Memasuki pekarangan, kita akan memasuki pintu yang cukup besar pada pagar tembok. Dengan halaman yang telah bersemen, Mesjid akan tampak tegar walaupun dengan usia yang lebih setengah abad. Mesjid tersebut memiliki satu Kubah besar, dan dua kubah kecil di kanan kirinya. Memasuki ruangan Mesjid kita akan menemui akan tangga yang berciri khas di depan pintu masuk. Tangga tersebut menghubungkan lantai dasar dengan loteng (minang : pagu), di loteng itu sendiri terdapat ruangan khusus, dan di atas itu lagi ada ruangan lagi.
Ruangan tertata dengan gaya lama, selain tonggak-tonggak semen bercampur kayu, mimbarnya pun sangat antik, berjenjang dari depan sehingga kalau khatib naik mimbar akan melangkah dan berdiri di jenjang-jenjang bertikar beludru itu. Sebagai hijab antara laki-laki dan perempuan terdapat kain berwarna biru, tertutup rapat, sehingga memang laki-laki tak bisa memasuki tempat shalat wanita di Mesjid tersebut.
Di sekitar mesjidpun masih berdiri bangunan-bangunan tua, bekas kejayaan dimasa lalu. Tepat sebelah kanan mesjid terdapat kran-kran tempat berwudhu’ laki-laki. Besebelahan dengan tempat berwudhu’ itu terdapat sebuah bangunan kayu yang dibangun diatas kolam yang cukup luas. Persis di belakang Mihrab mesjid terdapat ruangan makam Syekh Muhammad Sa’id dengan kelambu putih. Dibelakang makam tersebut, terdapat lagi sebuah ruangan khusus, dengan satu bilik sebagai tempat peninggalan benda-benda syekh, seperti jubah, sorban dan kitab-kitab. Di sebelah kiri mesjid terdapat lagi 2 buah bangunan yang terbuat dari kayu. Menurut keterangan yang ada bahwa ruangan-ruangan itu merupakan tempat para santri dahulunya menuntut ilmu.
Bila masuk waktu shalat jum’at, maka suasananya pun akan sangat terasa lain, sebab memang tak biasa sebagaimana yang dialami oleh orang-orang modern saat ini. Di Mesjid inilah kita menyaksikan amalan tradisional yang masih kental, belum pudar di hanyutkan modernisasi dan Tajdid. Sebab Minangkabau sedari dulunya kuat menganut mazhab syafi’i, maka pengamalan jum’atnya sarat dengan amalan pekah Syafi’iyyah. Sebelum jum’at, beduk di pukul 2 kali berselang sekitar setengah jam. kemudian azan dilakukan dua kali .
Suatu yang unik dari pelaksanaan azan di Mesjid Syekh Sa’id ini, azan pertamanya bersahut-sahutan antara satu muazzin dengan muazzin yang satunya, yang satu berdiri di Mihrab mesjid, sedang satunya lagi berdiri ditangga menuju ruangan atas. Apabila muazzin pertama yang berada di Mihrab azan dengan kalimat Allahu Akbar, maka disahut oleh muazzin kedua dengan kalimat yang sama setelah bacaan muazzin pertama selesai. Begitu seterusnya, sampai pada kalimat la ilaha illallahu baru dibaca bersama-sama oleh kedua muazzin tersebut. Kesyahduan irama yang dihasilkan menambah khitmat pelaksanaan jum’at, ditambah dengan suasana yang hening ala orang-orang tradisional, yang mungkin jarang kita kemui sekarang.
Setelah azan dilantunkan, kemudian para jama’ah yang telah memenuhi mesjid berdiri untuk melaksanakan shalat sunat Qabliyah jum’at. Setelah itu baru khatib naik mimbar dengan setelan sorban, syal di pundak dan bersarung, tak lupa dengan tongkat ditangan kanan. Sesudah salam dilaksanakan azan yang kedua, namun tidak seperti azan pertama, azan ini dilakukan oleh muazzin seorang tanpa bersahut-sahutan.
Khatib berdiri setelah kumandang azan, dan mulai membaca khotbah dengan bahasa Arab. Ada suatu yang aneh, walaupun dengan khutbah bahasa Arab namun khitmatnya beribadah lebih terasa dibanding dengan khutbah yang diucapkan dengan bahasa Indonesia, dengan uraian yang panjang. Dalam sejarah kita baca, bahwa pelaksanaan khutbah di Minangkabau dulunya memang dilakukan bahasa Arab, dapat dinyatakan sejak masuknya Islam itu sendiri. Baru di awal abad ke-20 dimulai khutbah dalam bahasa Indonesia oleh ulama-ulama yang kebanyakannya berfaham muda. Diantara ulama yang memulai perubahan bahasa khutbah itu ialah Syekh Muhammad Thayyib Umar Sungayang Tanah Datar (wafat 1920) dan Syekh Muhammad Djamil Djambek Bukittinggi (wafat 1947). Selanjutnya melihat keadaan masyarakat yang dari masa kemasa mulai kurang memahami bahasa Arab, perubahan khutbah inipun dilakukan pula oleh kaum Tua, dengan konsekwensi rukun khutbah mesti berbahasa Arab. Walaupun perubahan itu telah hampir seabad lalu di mulai, namun masih ada diantara ulama-ulama yang mempertahankan tradisi khutbah dengan bahasa Arab sebagai sediakalanya, tentu dengan dalil dan hujjah yang kuat pula. Maka Mesjid Syekh Sa’id ini termasuk kelompok yang masih memakai paham lama, ketika belum ada yang namanya modernisasi.
Pelaksanaan khutbah sendiri di Mesjid Syekh Sa’id dalam waktu yang relatif pendek, kira-kira kurang dari 10 menit. Sewaktu khatib duduk di antara dua khutbah, bilal membaca dengan jahar beberapa ayat al-Qur’an dan Shalawat. Setelah itu, shalat dilakukan dengan imam tersendiri, bukan khatib. Pelaksaan shalatpun sangat kental dengan fiqih syafi’iyyah sebagai halnya dilakukan di- derah-daerah lainnya, menjaharkan bacaan basmallah dan membaca surat juga diawali basmallah. Selesai shalat berdo’a bersama sebagaimana yang lazimnya. Setelah itu, khusus bagi jama’ah tharekat Naqsyabandi tetap di dalam Mesjid ketika masyarakat lain pulang. Kemudian pintu ditutup, untuk melaksanakan Tawajjuh, sebuah amalan zikir dalam tharekat Naqsyabandiyah.
Suatu yang unik lainnya ditemui, diwaktu pelaksanaan jum’at juga diikuti oleh kaum hawa untuk mendengarkan khutbah. Memang tak lazim bagi orang-orang sekarang, namun indikasi yang menunjukkan bahwa amalan seperti ini pernah banyak dilakukan di Minangkabau khususnya. Dan lagi jika ditelisik dari fiqih, sunnat pula hukumnya perempuan mengikuti jum’at. Begitu seharusnya, namun tak banyak masyarakat masa kini yang mengetahui.
Begitulah eksistensi Mesjid Syekh Sa’id dalam menjaga tradisi dan amalan yang telah dibangun pondasinya oleh ulama Besar Syekh H. Muhammad Sa’id Bonjol. Dengan demikian, besar pula pengaruh eksisnya Mesjid bagi masyarakat sekitarnya dalam menumbuhkan sikap konsekwen dalam beamal ibadah, sebagaimana dibawa oleh ulama-ulama besar pendahulu kita, jauh dari pendangkalan keilmuan dan amalan yang dibawa oleh kaum modern.

Tentang Keagungan Ilmu

Dalam Surat Al-Baqarah" Allah SWT berfirman :
"Dan Dia - Allah yang mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman : "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar". Mereka menjawab : "Maha Suci Engkau ! Tidak ada yang kami ketahui selain apa yang engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maja Bijaksana".

Diriwayatkan bahwa rasulullah saw. bersabda :
Yang paling selamat di antara kamu dari adzab dan kesengsaraan hari Qiamat, ialah yang terbanyak membaca shalawat untukku.

Oleh Abuhurairah diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda :
Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu, Allah menunjukkan baginya jalan ke syurga. Sesungguhnya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi sampai-sampai ikan di laut pada memintakan ampun bagi orang alim. Dan sesungguhnya ulama itu adalah pewaris-pewaris para nabi.

Friday, June 24, 2011

TAUHID (HAKEKAT DAN KEDUDUKANNYA)


TAUHID (HAKEKAT DAN KEDUDUKANNYA)


Firman Allah Subhanahu wata’ala :

 “Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah([1]) kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat, 56).

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan) “Beribadalah kepada Allah (saja) dan jauhilah thoghut”([2]).” (QS. An Nahl, 36).

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah : “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (QS. Al Isra’, 23-24).

Ikuti Blog ini

Berlangganan Artikel

Add to Google Reader or HomepageSubscribe in NewsGator OnlineAdd to My AOLAdd to fwickiAdd to The Free Dictionary